Subscribe di sini

Showing posts with label Pelaksanaan. Show all posts
Showing posts with label Pelaksanaan. Show all posts

Friday, 17 April 2020

Pengertian Manajemen Kurikulum


A.    Pengertian Manajemen Kurikulum
            Secara etimologi, manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata manus yang berarti  tangan dan agree yang berarti melakukan. Kata-kata ini digabungkan menjadi kata kerja manager yang berarti “menangani”. Kata ini selanjutnya diadopsi dalam bahasa Italia maneggiare yang berarti “mengendalikan” terutama “mengendalikan kuda”. Dalam perkembangannya diadopsi kedalam bahasa Prancis management, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.
            Manager diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to  manage, dengan kata benda management, dan manager  untuk orang yang yang melakukan kegiatan manajemen. Kemudian, management diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi pengelolaan.
            Manajemen adalah melakukan pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh sekolah atau organisasi yang diantaranya adalah manusia, uang, metode, material, mesin dan pemasaran yang dilakukan dengan sistematis dalam suatu proses.
            Menurut Hasibuan, manajemen sebagai ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sedangkan menurut Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian,  memimpin dan mengawasi pekerjaan organisasi dan untuk menggunakan sumber daya organisasi yang tesedia untuk mencapai tujuan organisasi yang dinyatakan dengan jelas.
            Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu kegiatan mendayagunakan orang dan sumber-sumber lainnya untuk  mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efesien yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi.[1]
            Istilah kurikulum (curriculum) berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat terpacu), dan pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh mendali/penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus ditempuh oleh seseorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.
            Berdasarkan pengertian di atas, dalam kurikulum terkandung dua hal pokok, yaitu :
1.      Adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa, dan
2.      Tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh ijazah.
            Dengan demikian, setiap siswa harus menguasai seluruh mata pelajaran yang diberikan dan menempatkan guru dalam posisi yang sangat penting dan menentukan. Istilah kurikulum pada dasarnya tidak hanya terbatas pada sejumlah mata pelajaran, tetapi mencakup semua pengalaman belajar yang dialami siswa dan mempengaruhi perkembangan pribadinya.
            Berikut pengertian kurikulum menurut beberapa para ahli :
1.      Harold B. Alberty, kurikulum sebagai kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah.
2.      Saylor, Alexander, dan lewis, kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk memengaruhi siswa belajar, baik dalam ruangan kelas, di halaman sekolah, maupun di luar sekolah.[2]
3.      S. Nasution, kurikulum dalam arti luas meliputi seluruh program di sekolah, yakni segala pengalaman di bawah tanggung jawab sekolah.

            Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai pendidikan tertentu.[3]
            Jadi, manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistematik, dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.[4]

B.     Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum
            Manajemen kurikulum adalah bagian dari studi kurikulum. Ruang lingkup manajemen kurikulum adalah sebagai berikut :
1.      Manajemen Perencanaan Kurikulum
            Perencanaan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membina siswa ke arah perubahan tingkah laku yang diinginkan dan menilai sampai mana perubahan-perubahan yang telah terjadi pada siswa.
            Perencanaan kurikulum dijadikan sebagai pedoman yang berisi petunjuk tentang jenis dan sumber peserta yang diperlukan, media penyampaian, tindakan yang diperlukan, sumber biaya, tenaga, sarana yang diperlukan, sistem control, dan evaluasi untuk mencapai tujuan organisasi.
2.      Manajemen Pengorganisasian dan Pelaksanaan Kurikulum
Manajemen pengorganisasian dan pelaksanaan kurikulum berkenaan dengan semua tindakan yang berhubungan dengan perincian dan pembagian semua tugas yang memungkinkan terlaksana. Dalam hal ini manajemen bertugas menyediakan fasilitas material, personal dan kondisi-kondisi supaya kurikulum dapat terlaksana.
Pelaksanaan kurikulum dibagi dua :
a.       Pelaksanaan kurikulum tingkat sekolah, yang dalam hal ini ditangani oleh kepala sekolah.
b.      Pelaksanaan kurikulum tingkat kelas, yang dalam hal ini dibagi dan ditugaskan langsung kepada para guru.
Peran-peran penting pada manajemen pelaksanaan kurikulum adalah :
a.       Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran.
b.      Kepala sekolah dalam kepemimpinan bersama.
c.       Kepala Departemen atau Wakil Kepala Sekolah dalam Manajemen Kurikulum.
3.      Supervisi Pelaksanaan Kurikulum
            Supervisi atau pemantauan kurikulum  adalah pengumpulan informasi berdasarkan data yang tepat, akurat, dan lengkap tentang pelaksanaan kurikulum dalam jangka waktu tertentu oleh pemantau ahli untuk mengatasi permasalahan dalam kurikulum. Secara garis besar pemantauan kurikulum bertujuan untuk mengumpulkan seluruh informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan dalam memecahkan masalah.
4.      Penilaian Kurikulum
            Penilaian kurikulum atau evaluasi kurikulum merupakan bagian dari sistem manajemen. Evaluasi bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan direvisi atau diganti.
5.      Perbaikan Kurikulum
            Perbaikan kurikulum sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan yang menuntutnya untuk melakukan penyesuaian supaya dapat memenuhi permintaan. Perbaikan kuikulum intinya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang dapat disoroti dari dua aspek, yaitu proses dan produk.
6.      Sentralisasi dan Desantralisasi Kurikulum
            Manajemen sentralisasi dan desantralisasi adalah memusatkan semua wewenang kepada sejumlah kecil manager  atau yang berada di suatu puncak pada sebuah struktur organisasi. Kelemahan sistem ini adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat sehingga waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lama.[5]

C.     Prinsip-prinsip Manajemen Kurikulum
            Sukmadinata menjelaskan bahwa terdapat lima prinsip umum dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1        Prinsip Relevansi
            Prinsip relevansi artinya prinsip kesesuaian. Prinsip ini ada dua jenis, yaitu relevansi eksternal artinya kurikulum harus sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang ada pada masa kini maupun kebutuhan yang diprediksi untuk masa depan, dan relevansi internal, yaitu kesuaian antar komponen kurikulum itu sendiri.
2        Prinsip Fleksibel
            Prinsip fleksibel berarti suatu kurikulum harus lentur (tidak kaku), terutama dalam hal pelaksanaannya.
3        Prinsip Kontinuitas
            Prinsip Kontinuitas artinya kurikulum dikembangkan secara berkesinambungan, yang meliputi sinambung antarkelas maupun sinambung antar jenjang pendidikan.



4        Prinsip Praktis dan Efisiensi
            Kurikulum dikembangkan dengan memerhatikan prinsip praktis, yaitu dapat dan mudah diterapkan di lapangan. Kurikulum harus bisa diterapkan dalam praktik pendidikan, sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.
5        Prinsip Efektivitas
Prinsip ini menunjukkan pada suatu pengertian bahwa kurikulum selalu berorientasi pada tujuan tertentu yang ingin dicapai.[6]
            Menurut Dedi Arik Kurniawan dalam blogspotnya manajemen kurikulum memiliki beberapa prinsip, yaitu :
1.      Produktivitas, hasil yang akan diperoleh dalam kegiatan kurikulum merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam manajemen kurikulum.
2.      Demokrasi, pelaksanaan manajemen kurikulum harus berasaskan pada demokrasi yang menempatkan pengelola, pelaksanaan dan subjek didik pada posisi yang seharusnya dalam melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab.
3.      Kooperatif, dalam mencapai suatu kegiatan manajemen kurikulum harus ada rasa kerja sama dengan baik untuk menghasilkan tujuan yang diinginkan.
4.      Efektif dan efesiensi, dalam menjalankan suatu kegiatan didalam manajemen kurikulum harus dilaksanakan dengan efektifitas dan efesiensi untuk mencapai tujuan kurikulum.
5.      Mengarahkan pada visi, misi, dan tujuan yang telah di tetapkan.
Demikian beberapa prinsip manajemen kurikulum yang jika kita perhatikan semuanya mengarahkan pada kegiatan yang mampu menghasilkan suatu capaian yang diinginkan dengan mensinergikan semua komponen yang ada didalamnya.[7] Selain prinsip-prinsip tersebut juga perlu dipertimbangkan kebijaksanaan pemerintah maupun Departemen Pendidikan, seperti USPN No. 20 Tahun 2003, kurikulum pola nasional, pedoman penyelenggaraan program, kebijaksanaan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah, kebijaksanaan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, keputusan dan peraturan pemerintah yang berhubungan dengan lembaga pendidikan atau jenjang/ jenis sekolah yang bersangkutan.
Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan manajemen kurikulum agar perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum berjalan dengan efektif, efisien, dan optimal dalam memberdayakan berbagai sumber belajar, pengalaman belajar, maupun komponen kurikulum. Ada beberapa fungsi dari manajemen kurikulum di antaranya sebagai berikut:
1.      Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.
2.      Meningkatkan keadilan (equality) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakurikuler, tetapi juga perlu melalui kegiatan ekstra dan kokurikuler yang dikelola secara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.
3.      Meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan, kurikulum yang dikelola secara efektif dapat memberikan kesempatan dan hasil yang relevan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar.
4.      Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, pengelolaan kurikulum yang professional, efektif, dan terpadu dapat memberikan motivasi pada kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam belajar.
5.      Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, proses pembelajaran selalu dipantau dalam rangka melihat konsistensi antara desain yang telah direncanakan dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, ketidaksesuaian antara desain dengan implementasi dapat dihindarkan. Disamping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien karena adanya dukungan kondisi positif yang diciptakan dalam kegiatan pengelolaan kurikulum.
6.      Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu pengembangan kurikulum, kurikulum yang dikelola secara professional akan melibatkan masyarakat, khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar perlu disesuaikan dengan ciri khas dengan kebutuhan pembangunan daerah setempat.[8]




















BAB III
PENUTUP
A.           KESIMPULAN
            Manajemen adalah melakukan pengelolaan sumber daya yang memiliki oleh sekolah atau organisasi yang diantaranya adalah manusia, uang, metode, material, mesin dan pemasaran yang dilkukan dengan sistematis dalam suatu proses.sedangkan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai pendidikan tertentu. Jadi, manajemen kurikulum adalah suatu sistem pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistematik, dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.
            Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum sebagai berikut:
1.      Manajemen Perencanaan Kurikulum.
2.      Manajemen Pengorganisasian dan Pelaksanaan Kurikulum.
3.      Supervisi Pelaksanaan Kurikulum.
4.      Penilaian kurikulum.
5.      Perbaikan Kurikulum.
6.      Sentralisasi dan Desantralisasi Kurikulum.
Prinsip-prinsip manajemen kurikulum
1.      Produktivitas.
2.      Demokrasi.
3.      Kooperatif.
4.      Efektivitas dan efesiensi.
5.      Mengarahkan pada misi, visi, dan tujuan yang telah ditetapkan.




[1] Fitri Oviyanti, dkk. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran. (Palembang: Noer Fikri, 2015). Hlm.3-4
[2] Tim Pengembang  MKDP. Kurikulum  Dan Pembelajaran. (Jakarta:Raja Grafindo Persada. 2013). Hlm.2 Tim Pengembang  MKDP. Kurikulum  Dan Pembelajaran. (Jakarta:Raja Grafindo Persada. 2013). Hlm.2
[3] Yudrik Jahja, dkk. Pedoman Pelaksanaan Kurikulum Raudlatul Athfal. (Jakarta: Departemen Agama RI. 2005). Hlm. 4
[4] Dakir. Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum. (Jakarta: Rineka Cipta. 2004). Hlm.3
[5] Fitri Oviyanti, dkk, Op. Cit . Hlm. 7-14
[6] Tim Pengembangan MKDP. Op. Cit. Hlm 67-69
[7] Fitri Oviyanti, dkk. Op.cit, Hlm 15
[8] Rusman,  Manajemen Kurikulum, (Seri II; Jakarata: PT. Raja Grafindo Persada : 2009).  Hlm. 5

Monday, 15 February 2016

PERAN KOMUNIKASI PEMASARAN


PERAN KOMUNIKASI PEMASARAN

          Melalui komunikasi, pemasar menjelaskan dan mempromosikan proposisi nilai yang ditawarkan perusahaan mereka. Kampanye iklan Wesin menggunakan media iklan yang bersifat pengalaman untuk mengomunikasikan suatu perasaan baru. Ini adalah janji yang dapat diharapkan oleh pelanggan apabila menginap di salah satu hotel Westin.

          Terdapat banyak kebingungan mengenai cakupan komunikasi pemasaran jasa, dan masih banyak orang yang mendefinisikannya secara sempit. Komunikasi harus dipandang lebih luas ketimbang sekadar iklan media, hubungan masyarakat, dan tenaga penjualan professional. Banyak cara lain bagi bisnis jasa untuk berkomunikasi dengan calon pelanggan dan pelanggan yang ada. Lokasi dan suasana fasilitas penghantantaran jasa, fitur rancangan korporat seperti penggunaan elemen warna dan grafis yang konsisten, penampilan dan perilaku pegawai, desain situs web – semua berkontribusi pada citra yang ada dalam benak pelanggan sehingga dapat memperkuat atau berkontradiksi dengan konten khusus dari pesan komunikasi formal. Beberapa tahun terakhir kita telah menyaksikan adanya peluang yang baru dan menarik untuk meraih pelanggan baru melalui internet, dengan kadar sasaran dan spesialisasi pesan yang belum pernah ada sebelumnya. Semua media ini harus diselaraskan secara efektif untuk menarik pelanggan baru dan menegaskan kembali pilihan pelanggan lama sembari mendidik mereka tentang cara melalui suatu proses pelayanan. Untuk alasan yang tepat, kami mendefinisikan elemen komunikasi di 7p sebagai Promosi dan Edukasi. Mari telaah beberapa peran khusus yang dilakukan oleh komunikasi pemasaran.

TANTANGAN DALAM KOMUNIKASI JASA

          Setelah membahas peran komunikasi pemasaran, kita akan menelaah tantangan komunikasi yang dihadapi perusahaan jasa. Sebagian besar strategi komunikasi pemasaran tradisional dibentuk dari kebutuhan dan praktik yang terkait dengan pemasaran barang-barang manufaktur. Akan tetapi, beberapa hal yang membedakan produk jasa dengan produk manufaktur juga memiliki dampak signifikan terhadap cara pendekatan kita pada rancangan program komunikasi pemasaran di perusahaan jasa.

Masalah Kenirwujudan

          Karena jasa lebih bersifat performa ketimbang objek, manfaatnya sulit untuk dikomunikasikan kepada pelanggan, terutama ketika jasa tersebut tidak melibatkan tindakan berwujud kepada pelanggan atau barang-barang mereka. Bentuk jasa yang nirwujud ini mencipakan empat masalah bagi pemasar yang ingin mempromosikan atribut atau mabfaat dari jasa tersebut: keabstrakan (abstractness), terlalu umum (generality), tidak bisa dicari (nonsearchability), dan tidak terasa (mental impalpability). Banwari Mittal dan Julie Baker menyoroti implikasi dari masing-masing maslah tersebut sebagai berikut:
·         Terlalu umum (generality) merujuk pada item yang terdiri dari kelompok objek, orang atau kejadian – misalnya, kursi pesawat, pramugari, dan layanan kabin. Kelompok umum ini memiliki analogi-analogi fisik, dan sebagian pelanggan dari jasa tersebut sudah mengetahuinya. Akan tetapi, tugas utama bagi pemasar yang ingin menciptakan proposisi nilai yang berbeda adalah mengominikasikan apa yang menajdikan suatu tawaran yang spesifik berbeda dari – dan mengungguli – tawaran pesaing.
·            
              Tidak bisa dicari (nonsearchability) merujuk pada kenyataan bahwa barang nirwujud tidak bisa dicari atau diperiksa sebelum dibeli. Atribut fisik dari jasa, seperti gedung klub kesehatan dan peralatan yang tersedia, dapat diperiksa sebelumnya, tetapi pengalaman bersama pelatih hanya dapat ditentukan setelah mengenal akrab sselama beberapa waktu. Seperti yang telah diulas pada Bab 2, atribut kepercayaan, seperti keahlian membedah, harus didasarkan pada rasa percaya.
·                         Tidak bisa dirasakan (mental impalpability). Banyak jasa yang cukup kompleks, multidimensi, atau baru yang menyulitkan pelanggan – terutama pelanggan baru – untuk memahami bagaimana pengalaman menggunakan jasa tesebut dan apa manfaatnya.


Masalah Kenirwujudan
Strategi Periklanan
Deskripsi
Bentuk yang Tidak Berwujud
Representasi Fisik
Menunjukkan komponen fisik suatu jasa
Terlalu Umum (Generality)
Untuk klaim objektif
Dokumentasi sistem
Mendokumentasikan secara objektif kapasitas sistem fisik
Dokumentasi kinerja
Mendokumentasikan dan mengutip statistik kinerja di masa lau
Untuk klaim subjektif
Peristiwa pelaksanaan jasa
Menyajikan insiden penghantaran jasa aktual
Tidak bisa dicari (nonsearchability)
Dokumentasi Konsumsi
Mengumpulkan dan menyajikan testimoni
Dokumentasi reputasi
Mengutip performa yang diaudit secara independen
Keabstrakan (abstractness)
Peristiwa penggunaan jasa
Menangkap dan memperlihatkan tipikal pelanggan yang memetik manfaat dari jasa tersebut
Tidak terasa (Impalpability)
Peristiwa proses jasa
Menyajikan dokumenter yang jelas mengenai tiap tahapan dalam proses pelayanan
Peristiwa riwayat kasus
Menyajikan riwayat kasus aktual dari apa yang dilakukan perusahaan bagi klien tertentu
Peristiwa penggunaan jasa
Narasi artikulatif atau gambaran pengalaman subjektif pelanggan

Tantangan dalam Komunikasi Jasa

·          Masalah Kenirwujudan
Karena jasa lebih bersifat performa dibandingkan objek, manfaatnya sulit dikomunikasikan kepada pelanggan terutama ketika jasa tersebut tidak melibatkan tindakan berwujud kepada pelanggan atau barang-barang mereka.
·          Terlalu Umum (generally)
Merujuk pada item yang terdiri dari kelompok objek, orang/kejadian.
Contoh: kursi pesawat, pramugari dan layanan kabin.

PERENCANAAN KOMUNIKASI PEMASARAN

          Setelah membahas peran komunikasi pasar dan cara mengatasi tantangan tawaran jasa yang nirwujud, kita sekarang beralih pada cara merencanakan dan merancang strategi komunikasi pemasaran yang efektif.
         
          Perencanaan kampanye komunikasi pemasaran sebaiknya mencerminkan pemahaman yang baik akan produk jasa dan sebaik apa calon pembeli dapat mengevaluasi karakteristiknya sebelum membeli. Penting sekali untuk memahami segmen pasar sasaran dan paparan mereka terhadap beragam media beserta kesadaran pelanggan dan sikap mereka terhadap produk. Keputusan yang harus diambil antara lain menentukan konten, struktur, dan gaya dari pesan yang akan dikomunikasikan, cara penyampaiannya, dan media yang paling cocok untuk meraih audiens yang diinginkan. Pertimbangan lain mencakup anggaran yang tersedia untuk eksekusi; jangka waktu, yang ditentukan oleh faktor-faktor seperti musim, peluang pasar, dan aktivitas pesaing; serta metode pengukuran dan evaluasi kerja.
         
          Peran apa yang seharusnya dimainkan komunikasi dalam membantu perusahaan jasa meraih tujuan pemasarannya? Daftar pertanyaan bagi perencanaan komunikasi pemasara diberikan oleh model “5 W”.

(Who) Siapa khalayak sasaran kita?
(What) Apa yang kita perlukan untuk mengomunikasikan dan meraih tujuannya?
(How) Bagaimana sebaiknya kita mengomunikasikan ini?
(Where) Di mana sebaiknya kita mengomunikasikan ini?
(When) Kapan komunikasi tersebut perlu dilakukan?

1.    Mendefinisikan Khalayak Sasaran (Target Audience)

          Calon pengguna, pengguna, dan pegawai mempresentasikan khalayak yang luas bagi strategi komunikasi apa pun:
·          Calon pengguna – Karena pemasar jasa pelanggan biasanya tidak mengetahui prospek mereka terlebih dahulu, mereka biasanya perlu menerapkan bauran komunikasi tradisional, yang meliputi elemen-elemen antara lain iklan media hubungsn msyarakat, dan menggunakan daftar untuk pengiriman surat atau telemarketing.
·          Penguna – Kebalikan dari prospek, saluran yang lebih efektif-biaya mungkibn tersedia untuk menjangkau pengguna lama, antara lain upaya jual-silang (cross-selling) atau up-selling (teknik menjual di mana pelanggan ditawari barang).
·          Pegawai – Pegawai berfungsi sebagai khalayak sekunder bagi kampanye komunikasi melalui media publik. Kampanye yang dirancang degan baik bagi pengguna, nonpengguna, atau keduanya dapat juga memotivasi pegawai, terutama mereka yang berperan sebagai garis depan. Juga, hal ini membantu membentuk perilaku pegawai apabila konten iklan menunjukkan sikap apa yang dijanjikan kepada pelanggan. Akan tetapi, ada resiko menciptakan sinisme di antara pegawai dan menurunkan motivasi mereka apabila komunikasi ini mempromosikan tingkat kinerja yang dianggap tidak realistis atau bahkan mustahil dilakukan oleh para pegawai.

2.    Menetapkan Tujuan Komunikasi

          Setelah kita mendapatkan gambaran jelas tentang khalayak sasaran, kita sekarang perlu menetapkab apa yang sebenarnya ingin diraih dengan khalayak sasaran tersebut. Tujuan komunikasi menjawab pertanyaan tentang apa yang perlu kita komunikasikan dan kita capai. Pemasar perlu mendapatkan gambaran jelas akan tujuan mereka, jika tidak, hal ini akan mempersulit dalam perumusan tujuan komunikasi yang spesifik dan dalam memilih pesan serta sarana komunikasi yang paling cocok. Tujuan-tujuan komunikasi ini dapat meliputi pembentukan dan pengelolaan perilaku pelanggan dalam tiga tahapan proses pembelian dan konsumsi yang telah dibahas dalam Bab 2 (yakni, tahapan pembelian, transaksi interaksi layanan, dan pascapembelian). Tujuan edukasi dan promosi untuk organisasi jasa antara lain:

·          Menciptakan citra yang muda diingat terhadap perusahaan dan merek mereka.
·          Membangun kesadaran dan minat terhadap jasa dan merek yang belum dikenal.
·          Membandingkan jasa dengan penawaran pesaing.
·          Membangun preferenai dengan mengomunikasikan kekuatan dan manfaat dari merek tertentu.
·          Me(re)posisi suatu jasa relatif terhadap penawaran pesaing.
·          Mengurangi ketidakpastian dan risiko yang dirasakan dengan menyediakan informasi dan saran yang berguna.
·          Memberikan rasa aman, misalnya dengan mempromosikan jaminan layanan.
·          Mendorong uji coba dengan memberikan insentif promosi.
·          Memperkenalkan pelanggan dengan proses jasa sebelum menggunakan jasa tersebut.
·          Mengajarkan cara menggunakan jasa tersebut dengan semaksimal mungkin kepada pelanggan.
·          Menstimulasi permintaan selama periode permintaan rendah dan menggeser permintaan selama periode puncak.
·          Mengakui dan memberikan penghargaan kepada pelanggan yang bernilai.

BAURAN KOMUNIKASI PEMASARAN

          Setelah memahami khalayak sasaran dan tujuan komunikasi kita secara spesifik, sekarang waktunya memilih bauran saluran-saluran komunikasi yang efektif biaya (cost-efective). Sebagian besar pemasar jasa memiliki akses terhadap berbagai bentuk komunikasi, yang secara kolektif disebut juga bauran komunikasi pemasaran. Beragam elemen komunikasi memiliki kapabilitas tertentu relative terhadap jenis pesan yang dapat mereka sampaikan dan segmen pasar yang ingin dituju.

PEMASARAN LANGSUNG

          Kategori ini mencakup sarana-sarana seperti surat, email, dan epsan teks. Saluran-saluran ini memberikan potensi peran personal yang dikirimkan kepada segmen terbatas yang disasar secara khusus. Strategi langsung seperti ini cenderung berhasil saat pemasar memiliki basis data informasi yang rinci mengenai pelanggan dan calon pelanggan. Tersedia layanan komersil yang memadukan data yang dikumpulkan perusahaan dengan sumber-dsumber data online dan offline yang lebih kaya. Experian, salah satu penyedia jasa terkemuka global dalam pasar ini, menyatakan dalam situs webnya: “Kami dapat membantu Anda dalam membangun gambaran yang lebih kaya mengenai perilaku pelanggan sehingga Anda dapat memprediksi dan merekayasa bagaimana mereka berperilaku di masa mendatang. Dengan sumber-sumber data internal dan eksternal, sarana pengelolaan pelanggan kami memungkinkan Anda untuk mengatur strategi bagi individu…Diperkuat hingga 6.000 variabel…dengan menggunakan data gaya hidup, demografis, transaksi, kredit yang diizinkan dan klasifikasi pelanggan.”

BERALIH DARI KOMUNIKASI IMPERSONAL MENUJU PERSONAL

          Komunikasi membagi komunikasi impersonal – di mana pesan hanya bergerak satu arah dan biasanya ditargetkan bagi kelompok besar pelanggan dan prospek ketimbang individu – dan komunikasi personal seperti penjualan p[ersonal, telemarketing, dan berita mulut ke mulut. Akan tetapi teknologi telah menciptakan zona abu-abu antara

SUDUT PANDANG LAYANAN 7.3
MEDIA BARU DAN IMPLIKASI MEREKA TERHADAP KOMUNIKASI PEMSARAN

          Teknologi telah menciptakan saluran komunikasi baru yang menarik yang memberikan peluang penting dalam menyasar pelanggan. Perkembangan-perkembangan teknologi ini meliputi TiVo, poscast, iklan melalui jaringan bergerak (mobile advertising), teknologi web 2.0, YouTube, dan jejaring sosial.

1.    TiVo
          Tivo (juga dikenal sebagai Digital Video Recorder (DVR) atau video pribadi) dapat merekam acara televise hingga berjam0jam secara digial ke dalam cakram keras seperti hanya VCR. Namun, tidak seperti VCR, Tivo selalu menyala dan terus-menerus menyimpan 30 menit saluran yang sedang ditonton. Ini berarti pengguna Tivo dapat menghentikan atau memundurkan acara di TV yang sedang ditonton. Kenyataannya, banyak pengguna mulai menonton acara TV setelah siarannya dimulai sehingga mereka bisa mempercepatnya dan melewatkan iklan-iklan. Hal ini mencemaskan para pengiklan. Yang menarik, meskipun pelanggan menyukai Tivo karena bebas iklan.

2.    Permasalahan Etika dan Privasi Konsumen dalam Komunikasi
Sebagian janji-janji jasa yang tidak realistis dihasilkan akibat kurangnya komunikasi internal antara personel operasional dan pemasaran menyangkut tingkat performa layanan yang diharapkan oleh pelanggan. Dalam kasus lain, pengiklan dan tenaga penjualan yang tidak etis dengan sengaja mebuat janji-janji palsu untuk mendapatkan penjualan. Terakhir, promosi yang menipu membuat orang berpikir bahwa mereka memiliki peluang lebih tinggi untuk memenangkan hadiah atau penghargaan daripada kenyataannya. Untungnya, banyak kelompok advokasi pelanggan yang mengawasi tindakan-tindakan pemasaran yang menipu ini. Kelompok-kelompok ini antara lain badan perlindungan pelanggan, asosiasi dagang dalam industry tertentu, dan jurnalis yang ingin mengulas penipuan dan kekeliruan.

          Jenis permasalahan etika lain menyangkut gangguan yang tidak diinginkan oleh pemasar agresif terhadap kehidupan pribadi orang lain, maraknya telemarketing, surat, dan email akan menjengkelkan bagi mereka yang menerima komunikasi penjualan yang tidak diinginkan. Bagaimana rasanya ketika makan malam Anda di rumah terganggua oleh panggilan telepon dari orang asing yang ingin menjual jasa yang tidak menarik minat Anda? Sekalipun Anda tertarik, Anda mungkin merasa, seperti halnya orang lain, bahwa privasi Anda telah diganggu (lihat Wawasan Penelitian 7.3).


Kumpulan ceramah ustadz Abdul Somad Lc Ma

Berikut video ceramah ustadz Abdul Somad Lc Ma Semoga menjadi motivasi dan bermanfaat  Hukum membaca Al-Qur'an digital di hp tanpa berwu...